Airlangga dan Bamsoet Bakal Adu Kuat di Munas Golkar

Muhtar S. Syihabuddin ( peneliti senior RMPolitika Jakarta ). Prayit/bataviapos.com

BATAVIAPOS – Dalam nalar demokrasi mutakhir, pergantian pemimpin partai politik adalah penyangga kabinet Jokowi-Ma’ruf. Ada asumsi kuat terkait turbulensi dalam tubuh partai koalisi akan berpengaruh banyak pada kekokohan kabinet Jokowi-Ma’ruf.
Jika angin berhembus ke arah beda, bolah jadi kabinet yang dibangun dengan susah payah akan bunyar. Perombakan pun tidak bisa dihindarkan seiring ganti pemimpin partai.
Setidaknya ada lima partai koalisi Jokowi-Ma’ruf yang akan melaksanakan pergantian pemimpin; Nasdem, PDIP, PKB, Golkar dan PPP. PPP karena Ketua Umum sekarang yang lahir karena turbulensi tertangkapnya Ketum PPP Rhomahurmuzy oleh KPK.
Sisanya akan melakukan pergantian pimpinan sesuai dengan masa jabatan yang telah ditetapkan oleh forum tertinggi partai politik.
Dari lima partai politik tersebut, yang paling menyedot perhatian publik adalah Munas Partai Golkar. Seperti bola salju terus menggelinding pasca usulan memajukan pelaksanaan Munas yang tadinya bulan Desember 2019, ke September 2019.
Membesarnya bola salju itu makin terlihat ketika bakal calon ketua umum bermuara pada dua tokoh; Airlangga Hartarto; Ketua Umum DPP Partai Golkar sekaligus Menteri Perindustrian dan Bambang Soesatyo Ketua DPR RI.
Dua tokoh ini merupakan kader berbobot dalam tubuh Partai Golkar. Keduanya sama-sama mempunyai kelebihan dalam mengemban posisi dan rekam jejak menjadi politisi partai Golkar. Modal sosial-politiknya kontan memanaskan perebutan kursi ketua umum Partai Golkar.
Tentu saja, Airlangga yang mampu membangkitkan Patai Golkar pasca fragmen dramatis; dari dualisme kepemimpinan Abu Rizal Bakrie dan Agung Laksono plus Munaslub Partai Golkar pasca lengsernya Setya Novanto. Ditengarai berhasil meraih kembali kepercayaan pemilih dalam waktu kurang dari dua tahun.
Partai Golkar mampu memenangkan Jokowi-Mar’ruf dengan selisih signifikan, meski di bawah raihan suara SBY-Budiono 2009. Selisih itu akhirnya menjadi kunci kemenangan yang dikukuhkan oleh keputusan MK. Tuduhan curang tidak terbukti dan sulit membatalkan suara Jokowi-Ma’ruf.
Prestasi ini menempatkan Golkar sebagai salah satu penyokong kabinet Jokowi-Ma’ruf. Kuat dugaan jatah kursi bagi Golkar akan bertambah yang sekarang dua; Menteri Perindustrian dan Menteri Sosial, sebagai imbalan setimpal dengan pengorbanan dalam Pemilu 2019.
Satu sisi posisi ini menjadi sangat prestisius bagi Golkar dengan limpahan harap dalam jatah dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf. Akan mendapatkan banyak ruang ekspresi dalam pemerintahan Jokowi-Ma’aruf sebagai manifestasi dari kepercayaan pemilih pada Partai Golkar.
Tapi pada sisi lain, meluber pada situasi yang sangat dilematis. Jadwal Munas Desember 2019 diminta maju ke bulan September 2019, agar pemerintahan Jokowi-Ma’ruf tidak kena getahnya jika Munas dilakukan Desember 2019. Ini biasa terjadi pada memontuk perombakan kabinet dari zaman reformasi.
Inilah menyebabkan sebagian komponen Partai Golkar menginginkan proses demokrasi partai dengan penantang bernama Bamsoet. Sebagai lawan tanding Airlangga jika memang Munas dilaksanakan pada September 2019, karena sama-sama menduduki posisi sebagai pejabat negara.
Efek glory jabatan negara sudah lama menjadi penyebab keterpilihan ketua umum Partai Golkar. Kita masih ingat, sejurus JK terpilih sebagai Wapres SBY pada 2004 bisa menggerus popularitas Akbar Tanjung dengan prestasi menempatkan Partai Golkar pemenang pemilu 2004.
Insan politik Partai Golkar sangat lihai memainkan pendulum kekuasaan untuk membalikkan keadaan. Modal berkuasa adalah penggerak agregasi politik yang efektif memenangkan kontestan. Dari citra sampai konsolidasi pemegang suar di Munas.
Bisa dibayangkan jika Munas Partai Golkar dilaksanakan pada Desember 2019, kesulitan kubu Bamsoet yang tidak asupan gizi berkuasa. Berhadapan dengan kubu Airlangga sebagai patahana yang bisa memanfaatkan kekuasaanya untuk menggirih para pemilih.
Pelaksaan Munas Partai Golkar selepas pelantikan kabinet Jokowi-Ma’ruf akan membentangkan karpet merah bagi kubu Airlangg. Boleh pemilihan tetap dilaksanakan secara pemungutan suara dengan posisi Airlangga di atas angin. Atau akan terjadi aklamasi seperti dugaan akan terjadi pada pemilihan ketua umum Nasdem, PDIP dan PKB.
Persaingan merebut Ketua Umum Partai Golkar ini baru saja dimulai. Dan akan berakhir ketika desakan percepatan itu layu sebelum berkembang. Maka Airlangga bisa dipastikan akan tetap memimpin Partai Golkar di masa mendatang.(PRY)
banner 468x60

No Responses

Leave a Reply